
Kita hidup di satu era yang sering disebut sebagai era performa atau achievement society, di mana nilai diri seseorang dalam struktur sosial sepenuhnya di dasarkan pada pencapaian individu, produktifitas dan efisiensi. Filsuf kontemporer dari Korea Selatan, Byung – Chul Han dalam bukunya “Masyarakat Kelelahan (The Bornout Society), mengartikan achievement society sebagai masyarakat yang terobsesi pada kesuksesan dan produktifitas, hingga seringkali mengabaikan kelemahan dan keterbatasan diri. Di sisi lain, tantangan di medan layan, kita juga bergumul dengan teologi sukses versus teologi penderitaan. Tuhan seolah-olah hanya hadir dalam kesuksesan dan kemegahan, karena itu orang berlomba-lomba untuk menjadi sukses dengan menghalalkan berbagai cara. Berhubungan dengan pendapat di atas, Dietrich Bonhoeffer mengingatkan kita tentang teologi penderitaan, bahwa Tuhan paling nyata hadir bukan dalam kejayaan yang gilang-gemilang, melainkan dalam penderitaan dan kelemahan. Senada dengan itu, C. Barth mengatakan bahwa manusia yang merasa kuat adalah manusia yang berbahaya bagi dirinya sendiri karena ia mencoba menjadi Tuhan
Perkembangan dunia hari ini, menggiring kita ada pada titik pengangungan kekuatan diri. Pola pendekatan yang dibangun selalu merujuk pada titik kuat sebagai goal untuk menghasilkan keuangulan diri, maka semua hal dapat direkayasa dan di beri lebel “unggul “. Narasi yang berkembang adalah: “anda adalah apa yang anda capai.” Muncul hari ini berbagai merek produk yang diberi lebel unggul. Dalam dunia pertanian ada bibit unggul. Ada juga manusia unggul dengan kekuatan ekstra, seperti yang dinarasikan dalam film-film. Misalnya, Hulk si manusia hijau, spiderman si manusia laba-laba, Kapten Amerika si manusia perisai, Iron Men si manusia teknologi. Kalau di Indonesia, manusia rajawali, manusia harimau, dst.
Dalam pandangan ini, kelemahan dianggap sebagai cacat produksi, kegagalan dipandang sebagai aib dan kerentanan dianggap sebagai ketidakmampuan. Akibatnya, muncul kecenderungan untuk merendahkan mereka yang dianggap “lambat, lemah, sakit-sakitan dan tidak berdaya”. Manusia berlomba menjadi “manusia unggul”, mengutip konsep Übermensch/superhuman ala Nietzsche dalam konteks populer, yang tidak membutuhkan orang lain. Namun, di balik topeng kekuatan ini, manusia modern mengalami kelelahan mental (burnout) dan kesepian yang mendalam karena tidak berani untuk jujur dengan kerapuhannya.
Pemahaman demikian, jauh hari juga menjadi pergumulan Paulus, sang rasul yang punya peran besar dalam giat pemberitaan injil Kerajaan Allah bagi bangsa-bangsa non Yahudi. Paulus di perhadapkan dengan keadaan sulit. Legitimasi kerasulannya dipertanyakan. Dianggap tidak memiliki karunia karismatik atau pengalaman khusus sebagai tanda kuasa Roh, ia hanya memiliki kerapuhan manusia (12:1-12). Kerasulan Paulus diragukan, mereka mefitnah Paulus sebagai rasul ilegal (2 Kor. 3:1;12:13 ). Belum cukup mereka memfitnah Paulus menjual injil dengan motif-motif palsu (2 Kor. 4:2-5). Ia juuga dituduh sebagai orang yang licik, dengan memakai wibawa rasul untuk cari makan dan kasi kaya diri (2 kor. 12:16-19).
Surat 2 Korintus ini, menyingkap sisi emosional seorang Paulus ketika berhadapan dengan lawan-lawan yang mencurigai identitasnya sebagai seorang rasul. Surat ini di tulis, tidak saja bertujuan untuk membela diri, tetapi untuk menginformasikan jemaat tentang fakta yang benar, bahwa dia tidak punya maksud lain dalam memberitakan injil, selain agar injil Kristus semakin bertumbuh dan jemaat Tuhan semakin diperkaya serta diberkati untuk berbuat baik.
Teks bacaan kita lebih merupakan satu bentuk kritik sosial yang menjungkirbalikan standar berpikir dunia, yang mengagungkan kekuatan diri dengan segala performa dan pencapaian diri. Logika terbalik/ sungsang ala Donald Kraybill di tampilkan oleh Paulus. Dapat dikatakan bahwa,, teks ini hadir sebagai “tamparan” sekaligus penghiburan bagi manusia yang ponggah dan menonjolkan keunggulan diri. Dalam lingkaran pergaulan, kita sering berjumpa dengan tipikal orang yang suka ‘pamer dan omong tinggi’ dengan kecendrungan meremehkan orang yang dianggapnya ‘kecil’. Istilah yang sementara populer di media sosial ialah ”fleksing”/tindakan pamer semua atribut yang menempel pada dirinya untuk menarik perhatian orang. Bagaimana menghadapi orang tipe ini? Kita belajar bersama dari pengalaman Rasul Paulus?
Tema perenungan kita: “Dalam kelemahan kasih karunia-Nya cukup.” Tema ini mengingatkan kita, bahwa hidup orang beriman termasuk para pelaku pelayanan tidak selalu berjalan di jalan yang mudah. Iman justru sering kali diuji dan dimurnikan di tengah kelemahan. Melalui pengalaman hidup Rasul Paulus, Firman Tuhan hari ini menegaskan bahwa di saat manusia merasa tidak sanggup lagi, manusia mengangkat tangan, manusia pangku tangan dan cuci tangannya, maka Allah akan turun tangan. Kasih karunia Allah tidak pernah berhenti bekerja.
Ada beberapa pokok perenungan yang bisa kita gali dan di dalami dari teks bacaan Firman Tuhan. Pertama, Rasul Paulus tidak menutupi kelemahannya (ay. 1–6).Rasul Paulus memiliki pengalaman rohani yang sangat luar biasa. Ia berbicara tentang penglihatan dan penyataan dari Tuhan, bahkan sampai diangkat ke tingkat ketiga dari Sorga. Namun, yang patut kita perhatikan, Paulus tidak menjadikan pengalaman iman yang luar biasa itu itu sebagai dasar untuk meninggikan diri. Paulus dengan sadar menolak bermegah atas pengalaman rohaninya. Ia memahami bahwa pengalaman iman yang sejati tidak boleh membawa dirinya jatuh pada dosa kesombongan rohani, melainkan kepada kerendahan hati dan ketaatan kepada Allah. Maksudnya, biar orang-orang menilainya bukan dari pengalaman iman yang ia alami secara prbadi, tetapi berdasarkan apa yang ia lakukan sehari-hari dalam perjumpaannya dengan orang lain. Bagi Paulus, pengalaman iman yang luar biasa itu tidak otomatis membuat ia menjadi seorang yang sempurna. Ia tetaplah manusia biasa yang mempunyai kelemahan, dan karena itu dia butuh orang lain juga, dia butuh Tuhan sebagai tempat bersandar.
Bagi para pelaku pelayanan gereja, termasuk di GMIT, ini menjadi pengingat penting; iman tidak diukur dari kehebatan pengalaman rohani, melainkan dari kesetiaan menjalani hidup dan kebergantunga pada kasih Tuhan. Kedua, Kelemahan menjadi jalan pemeliharaan Allah (ay. 7).Paulus kemudian berbicara tentang kelemahannya. Ia melukiskan kelemahannya itu seperti “duri dalam daging”. Teks bacaan kita tidak menjelaskan secara rinci apa duri itu, Banyak penafsir mengatakan bahwa duri dalam daging terkait dengan penderitaan fisik yang dialami. Namun yang jelasnya bahwa duri tersebut melemahkan dan menyakitkan. Berkali -kali Paulus meminta Tuhan untuk menjauhkan duri itu. Tetapi Tuhan malah mengijinkan duri itu ada dalam hidup Paulus. Paulus belajar berdamai dengan dirinya, untuk menerima duri itu. Sambil terus berefleksi dan memahami bahwa duri itu diizinkan Allah tetap ada dalam hidup dan pelayanannya bukan untuk menjatuhkannya, melainkan untuk menjaga hatinya agar tidak jatuh dalam dosa kesombongan atau meninggikan diri. Paulus adalah manusia biasa, dia bukan superhuman.
Kita belajar, bahwa sebuah pola pendekatan baru yang ditawarkan oleh Paulus. Ketika manusia modern selalu membangun narasinya mulai dari titik kuat, Paulus justru menawarkan metode baru yang dimulai dari titik lemah. Bukan membesar-besarkan kelemahan diri, tetapi memulai dari apa yang orang anggap tidak terlalu penting. Sebuah contoh, dalam tradisi filosofis Cina yang sangat kuat di pengaruhi oleh ajaran Taoisme, air itu dipandang sebagai guru terbaik, karena sifatnya yang selalu mencari tempat terendah namun memberikan kehidupan bagi segalanya. Seluas-luasnya suatu Sungai, tidak sama luas dari laut. Kita bertanya, mengapa begitu? Jawabannya sederhananya. Laut menjadi raja untuk seluruh air dan sungai karena dia mengambil posisi yang rendah. Dalam posisinya rendah, justru ia menjadi labuhan akhir dari perjalan semua air. Demikian juga dengan filosofi Tai Chi, kekuatan yang bersumber dari alam. Ilmu Tai chi, biasanya ilmu yang bergerak secara bebas, memanfaatkan kekuatan lawan dengan gaya yang kelihatannya lemah, padahal siap melepas serangan dengan kekuatan penuh. Siapa sangka bahwa titik lemah itu justru menjadi titik kuat. Paulus menyebut dengan terus terang kunci kekuatan dia sebagai rasul adalah karena Kasih Kristus. Paulus memulai dengan mengakui keterbatasan diri lewat hadirnya “duri dalam daging.” Yang menggerakkan hidupnya ialah Tuhan sendiri. Tuhan yang sudah masuk dalam kelemahan-kelamahan manusia; Tuhan yang tahu bahwa kelemahan itu bisa diubah menjadi sumber kekuatan.
Sering kali kita memandang kelemahan diri, sebagai batu sandungan dalam pelayanan dan tanda kegagalan iman. Namun, bila kita sungguh menerima diri apa adanya, memahami dan mengakui keterbatasan diri, maka firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa, kelemahan diri bisa menjadi sarana pemeliharaan Allah.
Selain kelemahan yang melekat dalam diri kita sebagai pribadi, dalam konteks GMIT, kita juga mengenal keterbatasan pelayanan: wilayah yang luas, sumber daya yang terbatas, serta tantangan sosial dan ekonomi yang nyata. Namun, keterbatasan itu tidak berarti Allah tidak hadir. Justru di sanalah Allah sedang membentuk iman dan ketergantungan gereja kepada-Nya. Tantangan dan keterbatasan diri tidak boleh membuat kita tercabut dari kasih Allah, melainkan membuat kita untuk semakin tertancap, berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam kasih Kristus. Ketiga, Doa Tidak Selalu Mengubah Keadaan, Tetapi Menguatkan Iman (ay. 8-9a).Paulus berdoa sampai tiga kali, agar kelemahan yang ia lukiskan sebagai “duri dalam daginng” itu diambil darinya. Paulus bergumul sungguh-sungguh dalam doanya, namun jawaban Tuhan bukan seperti yang ia harapkan. Pengalaman ini sangat dekat dengan kehidupan iman kita. Ada doa yang kita panjatkan berulang-ulang, namun keadaan tidak segera berubah. Ada pergumulan yang kita bawa dalam doa, namun jalannya terasa panjang. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa doa tidak selalu mengubah situasi secara langsung, tetapi doa selalu membentuk hati orang yang berdoa dan yang didoakan, agar tetap kuat untuk menerima dan menjalani kenyataan hidupnya.
Jawaban Allah kepada Paulus sangat singkat, tetapi sangat dalam maknanya: “cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Allah tidak menjanjikan bahwa duri itu akan diangkat. Allah tidak menjelaskan mengapa kelemahan dan penderitaan itu harus tetap ada dan hidup dalam pelayanan Paulus. Namun, Allah memberi jaminan yang paling penting: kasih karunia-Nya cukup. Kata “cukup” di sini tidak berarti pas-pasan, tidak berarti soal besar atau kecil, tidak juga berarti angka-angka. Namun lebih merupakan soal penerimaan terhadap diri. Kata Yunani arkei/arkeo, lebih merujuk pada arti menopang, kesempurnaan kekuatan dan kepuasan bathin, tidak membutuhkan hal yang lain karena apa yang ada sudah sangat memenuhi syarat. Sebuah penegasan bahwa, Kasih karunia Allah cukup untuk menopang seluruh kehidupan umat-Nya; cukup untuk menjalani hari demi hari, cukup untuk memikul beban pelayanan, cukup untuk tetap setia di tengah kelemahan. Jangan berpaling dari kasih karunia Allah. Jangan protes dengan keadaanmu, tetapi terus memberi diri untuk berproses dalam kasih karunia Allah. Sering kali kita berdoa agar Tuhan mengubah keadaan hidup kita, namun firman hari ini, mengajarkan bahwa Allah sering kali lebih dahulu mengubah cara pandang kita untuk selalu bersyukur terhadap penerimaan diri dan menjalani keadaan itu.
Dalam perjalanan hidup bergereja, kita belajar bahwa gereja tetap berdiri kokoh meski diterpa badai bukan karena kehebatan manusia, melainkan karena kasih karunia Allah yang terus mencukupi. Ibadah tetap berlangsung, pelayanan tetap berjalan, bukan semata karena kita selalu kuat dan hebat dalam melakukan inovasi pelayanan, melainkan karena Tuhan setia memelihara kita. Firman Tuhan hari ini menegaskan kepada kita: ketika kita merasa tidak cukup mampu, tidak cukup kuat, tidak cukup memiliki sumber daya, Allah berkata: “kasih karunia-Ku cukup bagimu.” Kemampuan untuk menerima diri apa adanya menunjukan sejauh mana kualitas keberimanan kita. Kempat, Kuasa Allah Nyata Dalam Kelemahan Manusia (ay. 9b–10).Setelah menerima jawaban Tuhan itu, Paulus sampai pada satu credo/pengakuan iman yang sangat mendalam: “sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Ini adalah paradoks iman Kristen. Di mata dunia, kelemahan adalah sesuatu yang harus ditutupi/disembunyikan. Namun dalam iman Kristen, kelemahan justru menjadi ruang di mana kuasa Allah dinyatakan. Paulus tidak memuliakan kelemahan dan penderitaannya. Kita kadang terbalik, dengan bangga menceritakan kesulitan-kesulitan medan pelayanannya, sampai tanpa sadar menonjolkan kemampuan diri kita untuk bertahan/resilience. Berbeda dengan Paulus, Ia tidak mengatakan bahwa kelemahan dan keterbatasan itu menyenangkan. Namun, Paulus menyadari bahwa ketika ia berhenti mengandalkan dirinya sendiri, di situlah kuasa Kristus bekerja dengan nyata.
Kita belajar dari Firman Tuhan hari ini “dalam kelemahan kasih karunia-Nya cukup.” Firman Tuhan mengingatkan dan menguatkan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai persekutuan gereja; bahwa kita tidak dipanggil untuk menjadi sempurna, tetapi untuk tetap setia. Kita tidak dipanggil untuk selalu kuat menurut ukuran dunia, tetapi untuk terus bersandar kepada Allah. Dalam konteks pelayanan bergereja kita, ini adalah pengakuan iman yang penting. Keterbatasan pelayan, keterbatasan jemaat, dan keterbatasan sumber daya bukanlah alasan untuk putus asa. Jangan insecure ketika berada di titik terendah dalam pelayananmu. Ubah perspektifmu tentang kelemahan dan keterbatasan, sebagai cara Allah menyatakan kuasa-Nya agar kita semakin percaya bahwa dalam kelemahan diri, kasih karunia-Nya cukup. Paulus bahkan berkata bahwa ia bermegah dalam kelemahannya, bukan karena kelemahan itu hebat, tetapi karena Kristus yang hadir di dalam kelemahan itu jauh lebih besar.
Kita di ajak untuk berdamai dengan kelemahan dan menerima keterbatasan diri, bukan untuk menyerah, melainkan untuk semakin bersandar dan berserah kepada pemeliharaan Allah. Perbanyak kerja, aksi yang menghasilkan buah sekedar menebar kata-kata kosong/kuah kosong. Ingga baik-baik. Pelayan dan pelayanan yang sukses itu bukan soal kemasan retoris, melainkan soal isi hati, soal ketataatan, soal kesetiaan. Jangan biarkan energi positifmu habis terkuras untuk mengeluh karena keterbatasan dan kelemahan. Keterbatasan jangan menjadi alasan untuk berhenti melayani, dan memberi yang terbaik dari potensi dirimu. Terus mengafirmasi diri, bahwa anugrah dan kasih karunia Tuhan cukup, dan karenanya mau berkomitmen untuk terus berproses dan bertumbuh bersama. Tuhan tidak mencari mereka yang hanya pandai berbicara, melainkan juga mencarai mereka yang mau di bentuk meski dalam diam. Kiranya dalam setiap keterbatasan hidup dan pelayanan kita, kita terus menghayati dan mengakui satu kebenaran iman ini: dalam kelemahan, kasih karunia-Nya cukup bagiku. Kiranya kasih karunia Tuhan Yesus Kristus senantiasa menopang, menguatkan, dan memelihara kita semua. AMIN
Pertanyaan untuk diskusi:
- Paulus memiliki pengalaman rohani yang luar biasa, tetapi tetap memiliki “duri dalam daging”. Paulus berkata “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. Menurut saudara, apa yang ingin diajarkan Firman Tuhan, tentang hubungan antara pengalaman iman kenyataan hidup dalam penderitaan? Dan bagaimana anggota jemaat dan pelayan gereja dapat mempraktikan sikap bersandar kuasa Tuhan di tengah tantangan pelayanan dan kehidupan sehari-hari.
- Paulus sudah berdoa supaya Tuhan mencabut duri dalam hidupnya, tetapi Tuhan menjawab dengan cara yang berbeda. Bagaimana saudara memahami jawaban Tuhan atas doa Paulus “cukuplah kasih karunia-Ku bagimu”. Bagaimana kita menghidupi rasa cukup dalam teks ini, dalam pelayanan ibadah kita di 3 lingkup pelayanan (Jemaat, Klasis dan Sinode) dan juga dalam keseharian hidup kita sebagai umat beriman?
- Apa saja duri dalam daging yang kita alami dalam persekutuan bergereja kita, mengapa dia tetap ada walaupun kita tidak menginginkannya dan bagaimana cara kita meyikapinya?











