//MEMULIAKAN ALLAH DALAM PENDERITAAN (YOHANES 12 : 20 – 36)-PDT. YULIAN WIDODO

MEMULIAKAN ALLAH DALAM PENDERITAAN (YOHANES 12 : 20 – 36)-PDT. YULIAN WIDODO

Pendahuluan

Tema renungan kita pagi ini tidak mudah dipahami. Kenyataannya, kita lebih mudah memuliakan Allah ketika situasi hidup baik-baik saja; waktu hidup kita senang, berkecukupan biasanya semangat memuliakan Allah berkobar-kobar di dalam hati kita. Puji-pujian mengalir dengan mudah dan doa terasa ringan serta iman terasa kuat.

Namun bagaimana jika kita sedang sakit, susah, berduka dan menderita, apakah kita masih mau memuliakan Allah? Inilah pertanyaan yang tidak mudah kita jawab namun Yesus telah menjawab pertanyaan ini melalui kehidupanNya.

Latar Belakang Teks

Bacaan ini merupakan rangkaian yang dimulai dari persiapan-persiapan sebelum Yesus menghadapi hukuman mati. Dalam Injil Yohanes tercatat tujuh mujizat yang telah dilakukan Yesus. Semua mujizat itu menunjuk pada status Yesus sebagai Mesias sejati.

Ketujuh mujizat itu dimulai ketika Yesus menghadiri Perkawinan di Kana (Yoh. 2:1-11) hingga Yesus membangkitkan Lazarus (Yoh. 11: 1-44). Sejauh ini, pelayanan Yesus mendapat tempat di hati orang banyak kecuali orang-orang Farisi dan para imam. Ia menyambut orang-orang yang dianggap tidak layak, seperti orang-orang berdosa, pemungut cukai, dan orang-orang yang dianggap rendah oleh masyarakat (Band. Lukas 15:1-2 dan Markus 2:15-17). Dengan tangan terbuka, Yesus menyambut setiap orang tanpa memandang latar belakang, dosa, atau kelemahan kita.

Di tengah “sambutan” yang diberikan orang-orang yang datang kepada-Nya, kita patut bertanya, mengapa Yesus harus memberitakan kabar yang suram dan menakutkan itu di tengah situasi pelayanan yang menerima kehadiranNya?

Untuk menolong kita memahami situasi ini, kita dapat membandingkan  dengan tradisi yang berkembang pada abad pertengahan di mana gereja memberikan tiga penghormatan yang diberikan kepada Yesus sebagai pengingat sengsara dan kematianNya yaitu sambutan yang meriah, teriakan “elu-elukan” sebagai Raja dan prosesi menunggang keledai. Tradisi ini hendak menunjukan bahwa segala kemuliaan duniawi tidak abadi dan sekalgus mengingatkan bahwa Yesus sekalipun adalah Raja namun Ia datang dalam kerendahan hati bahkan menanggung sengsara dan mati.

Jadi, tradisi gereja selama berabad-abad telah mengajarkan bahwa masuknya Yesus ke Yerusalem disambut dengan teriakan “Hosana” namun beberapa hari setelahnya terdengar teriakan “Salibkan Dia”.

Penjelasan Teks

Ayat : 20 – 23 : Yesus memberitakan kematianNya persis setelah Ia dielu-elukan di Yerusalem. Dimulai dengan cerita kedatangan orang-orang Yunani (ay. 20-23).  Kehadiran mereka memberi kita konteks khusus untuk memahami kata-kata Yesus tentang kematianNya. Kedatangan orang Yunani itu menandakan bahwa pekerjaan Yesus di kalangan orang Yahudi telah selesai dan terbukanya jalan bagi semua bangsa, termasuk orang Yunani melalui penderitaan dan kematian serta kebangkitanNya.

Hal ini menggenapi apa yang dikatakan oleh orang-orang Farisi saat Yesus dielu-elukan di Yerusalem. Orang-orang Farisi berkata satu dengan yang lain:  “…lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia” (lihat Yoh. 12:19).

Dalam konteks inilah Yesus kemudian berkata: “telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan…” (ay. 23)

Ayat 24: Kata “dimuliakan” dalam ayat 23 digunakan oleh Yohanes secara paradox. Bagi Yohanes, jika salib dilihat sebagai kehinaan maka dalam persepktif Yohanes Salib adalah kemuliaan, kemenangan dan mahkota. Karena itu bagi Yohanes, salib bukan penghalang menuju kemuliaan sebab Yesus dimuliakan bukan di atas kursi kerajaan yang terbuat dari logam mulia melainkan di atas kayu salib.

Setelah Yesus berkata tentang tibanya saat Anak Manusia dimuliakan, Ia menjelaskan tentang makna kematian melalui gambaran tentang biji gandum (ay. 24). Bagi Yesus biji gandum tidak akan pernah menghasilkan buah jika ia tidak jatuh ke tanah dan mati. Namun ia mati karena tanah memungkinkannya mengalami proses kehidupan hingga ia menghasilkan banyak buah.

Gembaran ini hendak menunjukan bahwa kemuliaan sejati adalah ketaatanNya yang sempurna kepada Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib. Ini adalah “kemuliaan” yang berbeda total dari konsep kemuliaan yang ditawarkan dunia.

Ayat 25: Selanjutnya, Yesus mengatakan tentang mencintai nyawa = kehilangan nyawa (ay. 25). Seperti biji gandum yang mati untuk berbuah banyak maka mencintai nyawa sama dengan membiarkan kesempatan untuk berbuah tidak terjadi dalam kehidupan seseorang. Yesus tidak mengajarkan fatalisme, melainkan mengajarkan tentang prioritas dan konsekuensi dari mengikuti Dia.

Ayat 26: Kemudian Yesus berkata: “Jikalau seseorang melayani Aku, ia harus mengikut Aku, dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada”.  Yesus menghendaki agar pelayan-Nya harus memiliki komitmen yang kuat untuk mengikuti Dia dan menjadi seperti-Nya, bahkan dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan

Ayat 27 – 30: Lebih jauh kita melihat “refleksi” dalam ayat 27 – 36  tentang apa yang baru saja Yesus ajarkan tentang kematianNya.  Dengan jujur Yesus menunjukan pergumulan kemanusiaanNya yang merasa terharu dan takut namun kembali mendapatkan kekuatan dalam komitmen menjalankan misi keselamatan Allah (ay. 27). Konfirmasi ilahi yang didengar oleh banyak orang menegaskan  bahwa jalan salib adalah jalan yang benar (ay. 28 – 30)

Ayat 31- 36: Yesus memberitakan bahwa kematianNya adalah kemenangan rohani yang mengalahkan Iblis dan membuka jalan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Kata “Ditinggikan” berarti disalibkan, tetapi juga dimuliakan. Ini menjadi kesempatan yang singkat untuk semua orang untuk percaya datang  kepada-Nya sebagai Terang, sebelum Terang itu pergi dari tengah-tengah mereka.

Catatan Aplikasi:

  1. Penderitaan yang Yesus alami bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan Yesus karena kemuliaan Allah justru dinyatakan di dalam dan melalui penderitaanNya. Demikian juga ketika manusia mengalami penderitaan, maka penderitaan yang kita alami bukan tanda bahwa Allah meninggalkan kita.
  2. Gambaran biji gandum mengajarkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari ketaatan yang tuntas kepada kehendak Bapa. Yesus menunjukan ketaatan, bahkan ketika ketaatan itu menuntut pengorbanan Ia Jalani dengan penuh ketaatan. Biji yang tidak mau jatuh ke tanah tidak akan pernah berbuah. Demikian pula, hidup yang terus-menerus menghindari penderitaan demi kenyamanan pribadi justru adalah hidup yang miskin buah. Memuliakan Allah dalam penderitaan berarti memilih ketaatan di atas kenyamanan.
  3. Setiap orang yang percaya kepada Kristus dipanggil untuk berada di mana Yesus berada bahkan dalam penderitaan salib. Memuliakan Allah dalam penderitaan bukan berarti tidak merasakan sakit tetapi di tengah rasa sakit itu, kita harus tetap memilih taat dan berpegang pada Bapa, sehingga kita dapat terus berkata: “Muliakanlah nama-Mu, Tuhan.”

Penutup

Inilah yang Yesus lakukan sebagai wujud “Memuliakan Allah dalam Penderitaan”. Salib adalah bukti tertinggi bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan penderitaan yang diserahkan kepada-Nya. Untuk itulah kita diundang bersama memuliakan Allah dalam situasi kehidupan yang mungkin sedang terluka dan menderita. Ia yang terluka dan menderita telah menjadi kemuliaan bagi Allah dan di dalam Kristus kemuliaan itu menjadi bagian orang-orang yang mengikut-Nya. Soli Deo Gloria!

(Pastori Jemaat Sesawi Oepura, 13 Maret 2026)