//MENYAMBUT YESUS DALAM IMAN DAN KETAATAN (LUKAS 1 : 26 – 38) – PDT. WELHELMINA S.M.V. HOTTY-FRANCIS

MENYAMBUT YESUS DALAM IMAN DAN KETAATAN (LUKAS 1 : 26 – 38) – PDT. WELHELMINA S.M.V. HOTTY-FRANCIS

Sejak kecil kita diajarkan untuk taat kepada orang tua kita. Orang tua, kadang atau sering kasi nasehat dan bilang, ini untuk bosong pung bae. Bosong harus percaya, papa dengan mama mau bosong jadi bae di masa depan, jadi orang tua omong tu dengar, taat, jangan melawan. Kadang atau mungkin sering kita melawan karena kita tidak percaya apa yang dikatakan orang tua kita dan pada akhirnya kita merasakan akibatnya. Misalnya kamu masih terlalu kecil, jangan bermain dengan pisau, sonde hati-hati nanti tangan luka. Lalu kita tidak taat, suatu hari kita penasaran untuk bermain dengan pisau untuk memotong-motong sesuatu, lalu pisau itu bikin kita terluka.  Baru kita percaya, oh yang papa atau mama bilang itu benar.

Kita percaya orang tua kita menyayangi kita, kita percaya orang tua kita melakukan yang terbaik bagi kita dan karena itu kita taat. Bahkan ketika dalam hati kita tidak percaya pun, kita memutuskan untuk taat karena kita sudah merasakan bagaimana kasih sayang orang tua kepada kita.

Di antara semua perempuan di dunia, di sepanjang segala masa, Maria adalah perempuan yang dipilih Allah sebagai jalan untuk menjelma menjadi Manusia. Apa istimewanya Maria? Pasti banyak istimewanya. Hanya kita tidak punya sumber yang bisa menceritakan tentang tumbuh kembang Maria sejak masih kanak-kanak, tanggung, remaja hingga menjadi seorang gadis dewasa yang bertunangan dan mempersiapkan diri untuk masuk dalam hidup pernikahan.

Catatan tentang Maria dimulai dari bagaimana malaikat Tuhan datang menemuinya dan mengatakan hal-hal yang kita semua tahu dan baca terus-menerus setiap menjelang natal, Lukas 1:26-38

Maria adalah seorang perempuan muda yang pintar, cerdas tapi rendah hati dan mempunyai iman yang kuat terhadap rencana Allah di dalam hidupnya.  

Maria terkejut didatangi oleh malaikat Tuhan, namun itu tidak membuat Maria kehilangan akal, ia bertanya dalam hati apakah arti dari salam dari malaikat itu. Maria juga bukan seorang gadis muda yang dengan mudah menerima begitu saja berita yang disampaikan kepadanya, sekalipun yang menyampaikan berita itu adalah seorang malaikat Tuhan yang mendatanginya secara Ajaib. Ketika Gabriel melanjutkan dengan berita tentang kehamilannya, Maria menjawab dengan cerdas, karmana beta bisa mengandung, beta belum punya suami. Normalnya seorang perempuan harus punya suami dulu baru bisa hamil. Seorang perempuan hamil tanpa suami, itu tidak normal, tentu ada pelannggaran, itu adalah zinah dan berat hukuman bagi seorang yang berzinah. Maria adalah seorang gadis baik-baik, kenapa ia harus ambil resiko mati konyol dirajam batu karena suatu kehamilan padahal ia baru bertunangan, belum menikah. Bagaimana ia menjelaskan ini kepada Yusuf, tunangannya. Bagaimana ia menjelaskan ini kepada orangtuanya, kepada kakak beradiknya mungkin, kepada keluarga? Dia gadis baik-baik, dia tumbuh dalam asuhan orangtua dan keluarga yang baik, ia bertumbuh dengan belajar dan melakukan Hukum Taurat. Semua orang tau dia seorang gadis baik-baik. Bagaimana semua itu dirusak oleh suatu kehamilan sebelum bersuami? Memang ia dan Yusuf sudah bertunangan. Tetapi bertuangan itu mereka baru melewati satu tahap perkawinan. Di Palestina masa itu, perkawinan ada dua tahap, yang pertama pertunangan. Ini semacam persetujuan formal di hadapan para saksi dan diperkuat dengan pembayaran “mas kawin”. Tahap kedua barulah perkawinan itu sendiri yang intinya adalah upacara “pengambilan “ dan “penjemputan” mempelai perempuan ke rumah suaminya. Memang setelah pertunangan calon mempelai laki-laki berhak penuh  terhadap calon mempelai perempuan yang sejak saat itu dipandang masyarakat sebagai istrinya. Tapi karena belum ada upacara penjemputan mempelai perempuan, maka mereka belum bisa tinggal  bersama. Perempuan biasanya masih tinggal selama satu tahun di rumah orang tuanya baru dilanjutkan dengan upacara penjemputan. Nah karena itu, walaupun sudah bertunangan namun pertunangan itu bisa diputuskan melalui perceraian resmi.

Nah ketika Gabriel memberi penjelasan terhadap pertanyaan Maria bahwa itu pekerjaan Roh Kudus dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaunginya, melindunginya dari semua yang dikuatirkannya,  Gabriel  memberi penguatan kepada Maria dengan menambahkan berita tentang seorang sanak keluarganya yaitu Elisabet yang semua orang tau dia itu mandul dan sekarang sudah jadi lansia tapi kenyataannya sekarang dia hamil dan usia kehamilannya sudah enam bulan. Maria tentu sudah dengar berita ini sebelumnya dari keluarga, Elisabet yang mandul dan sudah lansia itu akhirnya mengandung juga. Itu berita yang cukup viral di kalangan keluarga besar mereka, Zakharia abis bertugas di Bait Allah, keluar datang dia bisu tapi Elisabet kemudian hamil. Banyak orang tentu bertanya-tanya tentang hal ini. Dan itu semua menurut penjelasan Gabriel bisa terjadi karena tidak ada yang mustahil bagi Allah. Dan rupanya ini cukup membuat Maria percaya terhadap berita yang disampaikan kepadanya sehingga ia menjawab, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu”. Elisabet bisa hamil di usia senja maka beta juga bisa hamil tanpa disentuh laki-laki. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Maria pada akhirnya menerima dengan iman dan taat atau bersedia menjalani apa yang dikatakan Gabriel yaitu hamil dengan semua resiko yang akan ia hadapi di masa depan karena ia percaya Allah akan melindunginya. Itu kehendak Allah dan tidak ada yang mustahil bagi Allah. Allah pasti akan melindunginya.

Saya mencoba membayangkan hari-hari yang dilalui oleh Maria setelah ia menerima berita ini. Ia mulai hamil. Tanda-tanda kehamilan bisa terlihat jelas bagi orang serumah atau lingkungan sekitarnya. Mujngkin ada mual muntah atau tanpa mual mungtah pun perubahan bentuk tubuh akan menjelaskan itu.  

Penulis Lukas bisa menulis kisah ini tentu berdasarkan informasi yang bukan hanya dari Maria saja. Kehamilan Maria sebelum bersuami dilindungi oleh banyak pihak yang mencintainya. Mungkin Maria kasi tau mamanya, mama beta hamil. Lalu mamanya jawab, aduh anak e, lu pi bikin apa di mana ko bisa begini. Lu hanya pi rumah ibadah sa, hanya pi belajar agama, lu jalan pi mana kotong tau ma karmana ko bisa begini. Lu dengan Yusuf su langar aturan ni ma. Atau itu sapa, itu laki-laki sapa kalo bukan Yusuf? Kakak beradiknya mungkin kesal dan bilang Maria lu ni alim-alim, ma diam-diam makan dalam. Lu su karmana ni? Maria mungkin menjelaskan apa yang dikatakan Malaikat. Mungkin mereka lebih banyak yang tidak percaya tapi karena mereka mengasihi Maria, ia harus dilindungi. Biar karmana juga kotong pung anak nona, biar karmana juga kotong pung adik nona. Yusuf sebagai tunangan yang mengetahui hal ini pun dikisahkan mau melindungi Maria dengan cara menceraikannya diam-diam. Setelah Yusuf didatangi Malaikat, tentu Yusuf harus melindungi Maria dan juga melindungi kehidupan mereka selanjutnya sebagai pasangan yang dipilih Tuhan untuk melahirkan dan membesarkan Anak itu.

Kalau kita baca perikop selanjutnya Maria pergi ke tempat Elisabet dan tinggal di sana selama 3 bulan. Siapa yang bisa mengerti dan percaya akan keajaiban yang terjadi dalam hidupnya (hamil tanpa disentuh laki-laki) selain seorang yang juga mengalami keajaiban itu dalam hidupnya. Dia mandul, sudah tua tapi bisa hamil, itu kehendak dan rencana Allah. Mereka hanya bisa menerima dengan iman dan taat. Mereka saling memeberi semangat, saling menguatkan satu sama lain.

Saya coba berhitung, waktu Malaikat datang ke Maria, Elisabet sudah hamil 6 bulan. Maka tentu hanya jeda sedikit waktu Maria sudah pergi dan tinggal dengan Elisabet, lalu 3 bulan kemudian ia pulang dan Elisabet melahirkan. Menginap di rumah Elisabet adalah cara Allah melindungi Maria dari lingkungan sekitarnya di masa-masa awal kehamilannya. Gejala kehamilan Maria bisa membahayakan Maria dan bayinya karena ia akan diseret sebagai seorang perempuan yang berzinah dan dihukum mati.

Sensus penduduk juga adalah bentuk perlindungan Allah bagi Maria dan Yusuf. Kalau Maria melahirkan di tengah keluarganya, orang-orang bisa berhitung, ini Maria ni dia resmi nikah dengan Yusuf kapan, hamil kapan ko sakarang su barana ni. Orang-orang dialihkan perhatiannya kepada sensus penduduk, masing-masing berangkat ke daerah asalnya dan Maria melahirkan di tempat di mana tidak ada yang tertarik untuk telusuri, Maria lu hamil kapan, kawin kapan, barana kapan?

Setelah itu mereka harus mengungsi ke Mesir itu pun adalah perlindungan Allah bagi Maria dan Yusuf. Bukan hanya menghindar dari Herodes yang hendak membunuh Yesus, tetapi kalau seandainya mereka langsung pulang ke Galilea, maka orang masih bisa tertarik menghitung hari dan bulan kehamilan Maria ketika tahu Maria sudah melahirkan di Betlehem dan anaknya sekarang sudah sekian bulan.

Ketika beberapa tahun kemudian keadaan sudah dikatakan aman dan mereka kembali dari Mesir, Yesus sudah besar dan orang-orang tidak punya perhatian lagi pada hal-hal yang janggal ketika Maria menagandung Yesus beberapa tahun yang lalu.

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu. Pemerintah, penguasa yang jahat pun dipakai Allah  untuk melindungi Maria, Yusuf dan sang bayi mungil Yesus.

Maria menyambut Yesus, bayi yang dikandungnya dalam iman dan ketaatan, dan ia dilindungi dengan cara-cara yang tidak terduga.

Allah sudah merancang hal ini jauh hari sebelumnya. Ketika manusia jatuh dalam dosa dan dihukum, Allah sudah merancang karya keselamatan bagi manusia. Kejadian 3:15 berkata, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya, keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya”. Dan rancangan Allah tidak pernah gagal. Ia datang sebagai manusia dan menyelamatlkan kita. Kalau ada kegagalan maka itu adalah kegagalan kita manusia karena tidak percaya dan tidak taat. Kalau kita percaya dan taat maka rancangan Allah itu akan terus berjalan tahap demi tahap bahkan dengan cara atau pengalaman yang tidak kita duga sebelumnya.

Saya sudah punya pengalaman, saya yakin saudara-saudara juga demikian.

Untuk aplikasi mari kita diskusikan bersama dua pertanyaan berikut ini:

  1. Bagaimana kita menyambut Yesus dalam iman dan ketaatan dalam kehidupan keluarga, gereja dan masyarakat?
  2. Bagaimana kita menyambut Yesus dalam iman dan ketaatan dalam tugas dan karya kita di ‘Rumah Bersama,’ Kantor Sinode ini?