
Foto: Rio Kuman
SOE-TTS, www.sinodegmit.or.id,– Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) mengambil langkah tegas dalam merespons tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Nusa Tenggara Timur. Isu krusial ini ditetapkan menjadi agenda utama dalam kegiatan Camp Pria Bangkit 2026 yang akan diselenggarakan di Jemaat GMIT Batu Karang Nonohonis (GBKN), Klasis Kota Soe, pada 27-30 Mei 2026.
Sebagai langkah awal, Majelis Sinode GMIT telah memperhadapkan panitia pelaksana dalam ibadah Minggu (10/05/2026) di Jemaat GBKN.
Acara ini dihadiri oleh Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur; Ketua Majelis Klasis Kota Soe, Pdt. Ketlyn Radja, Korwil Nusra Forum Komunikasi Pria Kaum Bapak PGI, Robby Rawis; Ketua Pengurus Kaum Bapak Sinode GMIT, Ferdy Foes; serta Sekretaris Bidang Kaum Bapak, Pdt. Ferderik Herison Herewila, panitia pelaksana serta Jemaat setempat.
Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, dalam suara gembalanya menyampaikan pesan yang sangat kuat. Ia menyoroti bahwa peran pria sebagai pemimpin keluarga sedang diuji oleh maraknya kasus kekerasan, khususnya di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
“Tantangan terbesar kaum bapak saat ini adalah memerangi kekerasan terhadap perempuan dan anak. Karena itu, program ‘Kaum Bapak Anti Kekerasan’ harus menjadi fokus utama yang sangat kuat. Jika program ini tidak berhasil dijalankan, maka peran kaum bapak dianggap gagal dalam misi pelayanannya,” tegas Pdt. Saneb.
Ia menekankan bahwa Camp Pria Bangkit harus menjadi ruang evaluasi diri yang jujur. Harapannya, setiap peserta tidak hanya tampil hebat di ruang publik, tetapi mampu menjadi “imam dan pelita” yang menghadirkan kedamaian di dalam rumah tangga mereka sendiri.
Senada dengan itu, Ketua Majelis Jemaat GBKN, Pdt. Yan Kebakole, menyatakan kesiapan jemaatnya menjadi tuan rumah bagi transformasi karakter ini. Ia melihat kegiatan ini sebagai jawaban atas tren negatif perceraian dan KDRT yang saat ini memprihatinkan.
“Kami mengoptimalkan diri agar dapat menjadi tuan rumah yang baik. Diharapkan kegiatan ini menghasilkan kaum bapak yang peduli terhadap isu terkini, sejalan dengan tema pelayanan GMIT 2026: Gereja yang Memulihkan dan Membalut Luka,” ujar Pdt. Yan.
Pdt. Yan menambahkan bahwa kaum bapak harus bangkit menjadi sosok guru dan pelindung yang mampu memulihkan keutuhan keluarga.
Kegiatan ini tidak hanya berskala lokal, tetapi akan menjadi pertemuan besar bagi kaum bapak dari 57 Klasis di seluruh lingkup Sinode GMIT. Selain itu, perwakilan dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Jakarta juga dipastikan hadir.
Melalui sinergi antara jemaat lokal, klasis, dan sinode, Camp Pria Bangkit 2026 diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam menciptakan lingkungan keluarga yang aman dan bebas dari kekerasan di NTT. *











