//“Yang Terluka Yang Menyembuhkan” (Yesaya 53:1-12) – Pdt. Ariance O. Naitasi

“Yang Terluka Yang Menyembuhkan” (Yesaya 53:1-12) – Pdt. Ariance O. Naitasi

Kita semua tentu pernah alami luka, mungkin luka fisik tapi juga luka batin. Luka akibat kesalahan kita maupun orang lain yang melukai kita. Mungkin kita terluka dalam rumah dengan keluarga? Di tempat kerja?

“Setiap kita alami luka  ada banyak pilihan yang hadir di depan kita. Kita bisa memilih untuk marah, benci, frustrasi, dendam dan benar-benar terluka, atau kita juga bisa memilih menjadikan luka sebagai kesempatan dan jalan untuk belajar dan melihat dimensi kehidupan yang baru, lebih luas, lebih dalam dan lebih bermakna.”

Tema Firman Tuhan hari ini: “Yang terluka yang menyembuhkan”. Ini sebuah pergumulan yang tidak gampang. Bagaimana mungkin orang yang alami luka dia bisa menyembuhkan orang lain?

Kita tidak bisa menghindar dari luka-luka kehidupan. Karena itu, pertanyaan utama, bukanlah, “bagaimana kita menyembunyikan luka-luka itu sehingga kita tidak akan malu?” melainkan pertanyaan utama adalah, “bagaimana kita menggunakan kondisi luka kita menjadi pelayanan bagi orang lain?”

Contoh Pengalaman luka saya

Enam tahun lalu saya mengalami luka batin akibat mendiang suami saya meninggal. Kala itu saya melayani di RSUD Johannes Kupang. Selama kurang lebih tiga tahun suami saya dirawat RSUD Johannes Kupang hingga menghembuskan napas terakhir di sana. Dua minggu pasca kedukaan, saya kembali melayani di Rumah sakit. Saat pertama kali memasaki halaman Rumah sakit (area parkiran) rasanya tidak kuat karena memori dan kenangan mendampingi mendiang begitu memilukan hati. Saya berusaha kuatkan hati sambil berdoa dalam hati: Tuhan kasi kuat beta, ini tempat beta pung suami berobat sampai meninggal tapi ini juga tempat beta harus melayani. Saya mencoba kuatkan hati dan menuju ruang tunggu ICU tempat suami menghembuskan napas terakhir. Saya duduk kurang lebih 30 menit sambil menarik napas dalam sambil merenung moment terakhir kami di sana, setelah itu saya pamit pulang ke rumah. Keesokan harinya saya datang lagi mengunjungi bangsal kelas satu tempat biasa mendiang opname, di sana para perawat menopang dan memeluk saya sambil saya menangis dan mencurahkan isi hati saya, setelah itu pamit pulang ke rumah. Hari- hari berikut saya mulai perlahan-lahan kuat dan masuk ke bangsal yang lain. Dua minggu pertama melayani, Tuhan membawa saya berjumpa dengan pasien- pasien yang benar- benar susah. Saya bertemu anak-anak yatim piatu yang terinfeksi HIV/AIDS, dan yang tidak mempunyai tempat tinggal. Saya bertemu pasangan suami istri muda yang baru menikah dua tahun tetapi waktu dihabiskan di Rumah sakit karena cuci darah, dan masih banyak lagi kisah pilu lainnya. Dari situ saya berefleksi bahwa ah,…saya harus bangkit, saya harus kuat, ada orang yang jauh lebih susah dari saya. Pengalaman yang lebih berkesan adalah sebelum mengalami duka, cara saya mendampingi pasien terminal dan keluarga, saya selalu berkata: “bapak ibu, pasti ada mujizat, kita berdoa pasti Tuhan tolong” setelah megalami kedukaan saya justru mengajak keluarga untuk lebih siap meghadapi kematian, bagaimana menyiapkan hati, bagaimana berharap hanya kepada kedaulatan Tuhan, kesadaran akan keterbatasan hidup dan seterusnya.

Firman Tuhan hari ini bercerita tentang Hamba yang menderita. Dia menderita dan terluka bukan karena kesalahan-Nya, melainkan menanggung dosa kita. Dia dipukul babak belur, Dia diludah, dia diolok habis-habisan karena menanggung dosa kita.

Pada ayat 4, Dia dikira kena tulah. Orang Israel tidak percaya, apakah Mesias bisa kena tulah? Dia mengalami luka secara fisik maupun secara batin. Dia berjalan menuju bukit Golgota dengan hinaan, caci maki, serangan tuduhan, fitnahan, umpatan. Dia menanggung 40 kali cambuk yang sangat sakit dan keji. Dia diperlakukan seperti orang jahat.

Tetapi, cerita ini tidak selesai pada kisah tentang luka yang dialami bertubi- tubi. Ayat 12 mengatakan bahwa Yesus akan mengalami hal yang jauh lebih besar lagi. Dia bukan saja menerima kemenangan, tetapi Dia juga akan menaklukkan seluruh pembesar yang ada. Segala kuasa akan menjadi milik-Nya selamanya. Segala pemerintah akan ditundukkan kepada Dia sampai selamanya. Maka inilah berita sukacita itu.

Sang Hamba berhasil. Di tengah-tengah keadaan seolah-olah Dia sedang ditaklukkan justru terletak kemenangan-Nya. Maka di atas kayu salib terjadilah kemenangan terbesar sepanjang sejarah di seluruh alam semesta! Kuasa Allah menyatakan kemenangan-Nya karena Yesus.

Yesus adalah contoh pribadi yang mengalami luka paling banyak dan paling menyakitkan.  Secara fisik, mental, emosional dan spiritual.  Dia benar-benar terluka. Tetapi justru luka-luka Yesus yang paling menyembuhkan dan menjadi sumber inspirasi dan kepulihan bagi banyak orang dari abad yang pertama hingga sekarang.

  • Dia memahami rasa sakit kita karena Dia juga mengalaminya, menjadikan-Nya mampu memberikan kesembuhan. Kita dapat mengayun langkah untuk menjadi penyembuh namun kita harus terlebih dahulu dibalut dan disembuhkan oleh Tuhan. Kita mesti jujur dan berani terhadap diri sendiri, menembus ketakutan kita sendiri bahwa kita sendiri perlu penyembuhan dan pemulihan dari Tuhan.
  • Pemulih yang terluka/yang terluka yang menyembuhkan’ bukanlah seorang yang tanpa masalah. Dia telah bergumul dengan dirinya, telah selesai dengan dirinya dan pasti dia akan sukses jadi penyembuh bagi orang lain.
  • Sekarang, yang menjadi pergumulan kita bersama adalah: Bagaimana kita mentransformasikan luka-luka yang kita alami menjadi sumber kesembuhan dan inspirasi bagi orang lain?
  • Kita tidak perlu mencari luka-luka baru. Kita hanya dituntut dan ditantang untuk melihat luka-luka yang kita alami dalam perspektif iman dan menjadikannya menjadi pengalaman berharga dan jadi sumber kesembuhan dan inspirasi bagi banyak orang.

Karena itu, jika saudara saat ini sedang terluka, atau memiliki luka-luka yang selama ini terpendam, tertutup bahkan dengan sengaja disembunyikan karena rasa takut dan malu.

Mari kita bawa luka- luka kita kepada Tuhan Sang penyembuh sejati. Kita juga harus berani menanggalkan ego kita untuk bisa berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Dengan demikian, luka-luka kita tidak menjadi sumber luka bagi orang lain tetapi menjadi sumber kesembuhan, inspirasi dan pelayanan bagi orang lain.

Mari kita jadikan Gereja sebagai tempat di mana terjadi penyembuhan dan pemulihan. Mari kita jadikan persekutuan yang menyembuhkan bukan melukai dan terus melukai.

Bagaimana kotong pu luka jadi obat penyembuh bagi orang lain? Semua orang menderita tapi reaksi katong beda- beda. Ada yang putus asa dan kira hidup su abis. Ada yang tenang dan usaha sembuh.Jangan menyembunyikan luka, tetapi bawalah ke dalam hadirat Tuhan. Izinkan Tuhan memproses luka tersebut sehingga kita dapat berdiri sebagai pribadi yang dipulihkan dan menjadi berkat (menyembuhkan) orang lain. Semua orang pernah mengalami luka. Tapi tidak semua orang jadi penyembuh. Banyak kali kita hanya berhenti pada luka, tetapi enggan untuk berpulih, sehingga terus ada dalam putus asa, rasa dendam atau menyalahkan orang lain. Karena itu, kita harus berserah diri kepada Tuhan, dan ketika Tuhan memulihkan kita, sekiranya kita dapat menjadi saksi bagi orang lain. AMIN.