//Pembukaan Sidang Majelis Sinode GMIT ke-54, Tekankan Peran Komunitas Sembuhkan Luka Sosial

Pembukaan Sidang Majelis Sinode GMIT ke-54, Tekankan Peran Komunitas Sembuhkan Luka Sosial

KUPANG, www.sinodegmit.or.id,– Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) resmi membuka Sidang Majelis Sinode (SMS) ke-54 pada Senin (9/2/2026) di GMIT Center, Kupang.

Mengusung tema tema: “Lakukan keadilan, cintai kesetiaan dan hidup rendah hati di hadapan Allah” (Mikha 6:8), dan sub tema: “Bersaksi tentang Allah yang setia di tengah dunia yang luka” (Band. Mazmur 89:1-2), persidangan ini menekankan pentingnya kekuatan komunitas gereja dalam menyembuhkan berbagai “luka dunia,” mulai dari kerusakan ekologi hingga persoalan kemiskinan dan kekerasan di NTT.

Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, dalam suara gembalanya menegaskan bahwa gereja harus memiliki kepekaan terhadap realitas sosial. Menurutnya, kesetiaan Allah harus diwujudkan melalui aksi nyata gereja dalam menghadapi isu-isu kontemporer.

“Kita tidak sedang membicarakan memori luka lama, melainkan kekuatan dan kesetiaan Allah yang menggerakkan gereja untuk peduli terhadap luka sosial seperti penindasan, kekerasan, HIV/AIDS, hingga krisis ekologi,” ujar Pdt. Semuel.

Ia memaparkan sejumlah langkah konkret yang telah dilakukan GMIT, di antaranya: Gerakan menanam satu juta pohon untuk pemulihan lingkungan, Pemberdayaan aset ekonomi jemaat di beberapa wilayah pelayanan, penguatan UMKM jemaat, termasuk penanaman bawang di Rote, serta penguatan kolaborasi antara seluruh lingkup pelayanan GMIT dengan pemerintah daerah.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTT, Irjen Pol (Purn) Johni Asadoma, turut menyoroti tantangan besar yang dihadapi daerah, seperti stunting, pengangguran, dan KDRT. Ia menilai peran spiritual gereja sangat vital sebagai sumber pengharapan masyarakat.

“Kondisi ini menuntut kepedulian bersama untuk menghadirkan kasih. Kami mengapresiasi GMIT yang tidak hanya fokus pada pembinaan rohani, tetapi juga aktif dalam pendidikan dan pemberdayaan ekonomi,” ungkap Johni.

Senada dengan itu, Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, mengapresiasi relasi harmonis antara pemerintah dan klasis-klasis GMIT, terutama dalam sinkronisasi data masyarakat untuk pelaksanaan program pelayanan.

Persidangan yang dijadwalkan berlangsung selama enam hari (9–14 Februari 2026) ini diawali dengan ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. Helda Mimi Sir-Seo sebagai liturgos dan Pdt. Arthasasta Nifu sebagai pengkhotbah.

Dalam ibadah tersebut, dilakukan pula prosesi perhadapan Majelis ex-officio antar-waktu periode 2024-2027 untuk empat Klasis, yakni: Pdt. Papy James Welhem Foeh (Ketua Majelis Klasis Fatuleu Barat), Pdt. Selhisama Leimakali (Ketua Majelis Klasis Mataru), Pdt. Doris Albertus Lopo Boys (Ketua Majelis Klasis Amarasi Barat) dan Pdt. Mariana Ndjukambani (Ketua Majelis Klasis Soe Timur).

Acara pembukaan ini dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi, termasuk Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Ketua DPRD NTT Emelia Julia Nomleni, Danrem 161/Wira Sakti, serta sejumlah kepala daerah dari Kabupaten Kupang, TTS, Alor, dan Rote Ndao. Hadir pula pimpinan perbankan (Bank NTT dan BI) serta pimpinan akademisi dari UKAW Kupang dan UKSW Salatiga. ***